Kamis, 20 Februari 2014

Hamba Yang Di Kehendaki Baik Oleh Allah

Hamba Yang Di Kehendaki Baik Oleh Allah

ﺇﺬﺍ ﺃﺮﺍﺪ ﺍﷲ ﺑﻌﺑﺪ ﺧﻳﺭﺍ ﻓﻗﻬﻪ ﻓﻰﺍﻟﺪﻳﻥ ﻮﺯﻫﺩﻩ ﻓﻰ ﺍﻟﺪﻨﻴﺎ ﻭﺑﺻﺭﻩ ﻋﻴﻭﺑﻪ
﴿ﺭﻮﺍﻩ ﺍﻟﺑﻳﻬﻗﻰ ﻋﻦ ﺃﻧﺱ﴾

Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Dia membuatnya memahami agama dan membuatnya berzuhud terhadap duniawi, lalu Dia memperlihatkan kepadanya aib-aib dirinya.
(Riwayat Baihaqi melalui Anas r.a.)

Penjelasan :

Sahabat pembaca, bilamana Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba-Nya, niscaya Allah memberinya petunjuk untuk dapat memahami agama karena agama akan membawanya kepada kebaikan, ketentraman, kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dan niscaya Allah menjadikannya sebagai orang yang berzuhud terhadap duniawi karena dunia itu pasti lenyap, sedangkan pahala amal saleh tetap dan kekal di sisi-Nya. Hal ini tidaklah heran mengingat pemahaman agamanya yang mendalam sehingga harta duniawi menurut pandangannya tiada artinya di bandingkan dengan pahala ukhrawi. Bila Allah memberinya rezeki yang banyak, ia sampai kepada tingkatan zahid, niscaya ia akan dapat melihat aib dan kekurangan- kekurangan yang ada pada dirinya, lalu segera ia bertaubat dan memperbaiki dirinya.

Hadits ini menerangkan tentang keutamaan belajar agama, berzuhud terhadap masalah duniawi, dan memperbaiki diri dengan amal-amal sholeh untuk menutupi aib/celanya.
Kalau orang faham tentang agama, maka insyaAllah semua urusannya baik. Semua urusannya akan di lakukan berdasarkan petunjuk Allah, akan menyerahkan semua kesulitannya kepada Allah. Allah berfirman:
ۚ ﻭ ﺃﻓﻭﺽ ﺃﻤﺮﻯ ﺇﻠﻰ ﺍﷲ ۚ ... ۝

Artinya, “… dan aku serahkan urusanku kepada Allah, …” (Q.S.Ghafir: 44).

Itu orang yang faham agama, orang yang punya ilmu. Orang yang punya ilmu mendapatkan musibah, dengan orang yang tidak punya ilmu mendapatakan musibah, maka akan sangat jauh kondisi jiwanya.

Sahabat pembaca, orang yang punya ilmu mendapatkan musibah ia segera kembali kepada Allah yang mentaqdirkannya, bahwa Allah memberi musibah kepada orang yang taat beriman kepadaNya, akan memberi 3 hal, yaitu:
1.      Akan di ampuni dosanya
2.      Akan di angkat derajatnya
3.      Dan akan di kabulkan doanya

Sahabat pembaca, maka ia paham kalau musibah, ujian, di berikan kepada hambanya itu, untuk meningkatkan kelasnya, sama dengan kalau kita sekolah, kuliah, lalu harus ujian untuk naik kelas. Tapi, kalau orang yang tidak bertaqwa kepada Allah, tidak punya ilmu agama,  ia di beri ujian,  masyaAllah, bisa-bisa ia akan putus asa, stress, bunuh diri, hidup sengsaranya seperti ini, terlalu berat, aku tidak kuat menanggungnya, mungkin seperti itu, karena ia tidak melihat, bahwa Allah akan menyayanginya, bahwa Allah akan menolongnya, dan itu pasti, karena Allah tidak pernah ingkar janji. Allah akan menyayangi manusia yang taat kepadaNya.
Lalu dia di beri perasaan zuhud. Zuhud itu dari sisi bahasa, itu benci. Benci itu, bukan benci meninggalkan, maksudnya benci, tidak memusatkan perhatiannya untuk dunia. Sebagai ilustrasi, ada 2 orang: yang 1 kaya, yang 1 nya lagi, miskin. Yang miskin itu membawa tempat kemana-mana, di bawa untuk meminta-minta. Yang di pikir itu hanya orang ngasih uang, uang, uang, uang. Yang satunya yang kaya itu, justru ia zuhud pada dunia, kekayaannya di pakai hanya untuk taat kepada Allah saja. Bukan untuk menuruti nafsunya, maka di nilai oleh Allah orang yang kaya itu, orang yang zuhud, orang yang baik hati terhadap dunianya. Sedangkan yang minta-minta kemana-mana bawa tempat untuk minta-minta, yang di pikir uang, uang, uang, uang, bagaimana caranya dapat uang, bagaimana … dan seterusnya. Bukan zuhud, yang mencintai dunia, meskipun dia tidak punya apa-apa.

Jadi zuhud itu, tidak berarti miskin, lalu orang yang cinta dunia tidak berarti mesti kaya, zuhud justru orang yang tidak memusatkan perhatian hidupnya untuk harta, tapi di pusatkan perhatiannya untuk Allah, justru Allah yang memberi kekayaan padanya. Karena Allah janji, jika manusia mengutamakan Allah, maka Allah akan mengutamakan manusia itu.
Seperti itu, maka, orang-orang yang baik, ia akan zuhud, bahasa lain zuhud adalah hati-hati, hati-hati masalah dunia, tidak mengambil kalau bukan haknya, tidak membawa pulang masuk ke dalam rumah kalau bukan yang halal, saking hati-hatinya. Begitu bangun tidur, yang di ingat adalah saya harus segera beribadah kepada Allah,  bangun tidur kemudian ia segera untuk bersuci, lalu shalat, mungkin shalat tahajjud, mungkin shalat shubuh, bukan begitu bangun tidur lalu “bagaimana pekerjaan tadi malam selesai apa belum… dst. Adalah harta. Maka jadilah fakir, butuh harta, perasaan itu ada.

Nah, kemudian juga di tampakkan aibnya. Di perlihatkan aibnya. Orang yang baik itu merasa bahwa dirinya masih banyak salah, bukan orang yang merasa “aku loh yang terbaik (apik dewe – jawa)” bukan itu. Tapi orang yang merasa dirinya masih salah, shalat saya masih belum bisa khusyu’, shadaqah saya belum bisa banyak, saya belum bisa mennyenangkan orang lain, saya belum bisa berbakti kepada orang tua, saya belum bisa banyak ibadah kepada Allah, saya belum benar baca alQur’an, dan lain sebagainya. Ia masih merasa kurang, merasa aib, merasa cela, sehingga Karena ia merasa aib itu, merasa cacat itu, ia selalu meningkatkan prestasi kebaikannya, Karena ia merasa belum banyak, belum baik, belum benar. Nah, itu orang baik, belum banyak ilmu, akam merasa seperti itu.

Bukankah setiap orang, semakin ia belajar ilmu, semakin ia merasa belum mengerti apa-apa. Semakin ia merasa bodoh, lalau ia semakin terus menerus menambah pengetahuannya itu. Orang yang tidak bisa kenyang adalah dengan ilmu, itu yang benar. Maka, terus kita mencari ilmu. Hal-hal yang tidak ada kenyangnya adalah, bumi menerima air, terus di terima meskipun banjir karena kebanyakan, masih di terima masuk ke dalam bumi.

Orang pria wanita saling mencintai suami istri terus sampai kapanpun aka nada cinta itu, termasuk manusia terhadap ilmu, tidak ada kenyangnya. Demikian juga orang yang sangat mencintai harta, tidak ada kenyangnya. Nah, seperti itu,  kita ambil saja yang positif , manusia tidak ada kenyangnya terhadap ilmu Allah. Maka ia akan terus belajar di mana saja, belajar bukan hanya di tempat sekolah, waktu di bangku sekolah saja, waktu kuliah saja, tapi Allah mewajibkan kita untuk belajar dari sejak kecil sampai meninggal dunia. Berarti tidak ada tutup kelas untuk belajar. Bisa melalui buku, melalui Tv, Radio, bisa melalui kajian di masjid, mushollla, di pondok pesantren, di mana saja ia bisa mendapatkan ilmu.

Dan ilmu yang membahagiakan adalah ilmu tentang Allah tadi. InsyaAllah tidak akan susah hidup kita. Kalau kita tahu bahwa semuanya di atur oleh Allah sebaik-baiknya, kita tinggal menjalani saja, kita tinggal menerima saja. Kalau dalam pewayangan, kita sebagai wayangnya saja (tinggal ngelakoni sak karepe dalange,  – bahasa jawa) dalangnya itu, Allah. Allah akan mengatur sebaik-baiknya kita harus percaya, kita harus yakin. Kalau tidak yakin, tidak percaya, maka kata merasa hidup dengan hati tertekan, seakan-akan urusan kita, kita tanggung sendiri, padahal di tata oleh Allah.


Seperti itu, Sahabat pembaca. Mudah-mudahan kita bisa di pilih oleh Allah di jadikan orang yang baik, difahamkan ilmu agama, di beri sifat zuhud pada dunia, dan di tampakkan kekurangan kita oleh kita sendiri. Sehingga bisa memperbaiki.
Aamiin.. ya robbal ‘alamin…

Senin, 17 Februari 2014

Orang Yang Di Kehendaki Baik Atau Buruk Oleh Allah

Orang Yang Di Kehendaki Baik Atau Buruk Oleh Allah

ﺇﺫﺍ ﺃﺭﺍﺪ ﺍﷲ ﺑﻌﺑﺩ ﺨﻴﺮﺍ ﺟﻌﻝ ﻏﻧﺎﻩ ﻓﻰ ﻨﻔﺴﻪ ﻮ ﺘﻘﺎﻩ ﻔﻰ ﻗﻠﺑﻪ ﻭ ﺇﺫﺍ ﺃﺭﺍﺪ ﺍﷲ ﺑﻌﺑﺩ ﺷﺭﺍ ﺟﻌﻞ ﻓﻗﺭﻩ ﺑﻴﻦ ﻋﻴﻧﻪ
﴿ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺤﺎﻜﻡ ﻋﻦ ﺃﺑﻰ ﻫﺭﻴﺭﺓ﴾

Apabila Allah menghendaki kebaikan terhadap seorang hamba, maka Dia menjadikan kekayaannya berada pada dirinya sendiri, dan takwanya berada pada kalbunya. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap seorang hamba, maka Dia menjadikan kefakiran di depan matanya.
(Hadits riwayat Imam Hakim dari Abu Hurairah r.a.)
Penjelasan :

Hadits ini berkaitan erat dengan hadits sebelumnya, yaitu yang mengatakan bahwa rela-lah engkau dengan apa yang telah di berikan oleh Allah kepadamu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya. Dan dalam hadits ini, di sebutkan bahwa bilamana Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, niscaya Dia menjadikan kekayaannya pada dirinya sendiri. Atau dengan kata lain, hamba tersebut di beri-Nya petunjuk dan Taufik untuk bersyukur kepada-Nya. Apabila ia menjadi orang yang bersyukur, berarti ia ridho (senang) dengan apa saja yang di berikan Allah Swt. kepadanya, dan jadilah orang yang kaya diri (kekayaannya ada pada jiwanya). Akan tetapi, jika orang itu di kehendaki buruk oleh Allah, maka kefakirannya ada di hadapannya. Yang di hadapi setiap hari hanya perasaan kurang, perasaan fakir, perasaan terjepit oleh kebutuhan, masyaAllah. Maka ia tidak bersyukur, sekalipun Allah Swt. telah memberinya rezeki yang banyak, ia tetap merasa tidak puas dengan apa yang telah ada padanya, sehingga jadilah ia meskipun orang yang kaya, tetapi hatinya miskin, jadilah ia miskin diri dan tidak puas dengan apa yang telah di berikan Allah kepadanya.

Apabila ia bersyukur kepada Allah, berarti di dalam kalbunya telah tertanam rasa taqwa kepada Allah karena kedua hal tersebut berkaitan erat sekali. Taqwa dengan syukur tersebut. Sehubungan dengan hal ini, Allah telah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 123:

 ...  ۖ  ﻓﺎﺗﻗﻮﺍ ﺍﷲ ﻟﻌﻟﻜﻡ ﺘﺸﻛﺮﻮﻥ ۝   

Artinya, “… maka bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya (nikmat Allah)”. (Ali Imran : 123)

Sahabat pembaca, dalam hal ini, kondisi manusia yang merasa kaya atau merasa fakir itu, sebenarnya dalam jiwanya sendiri (dari nafsunya sendiri). Namun di sini di sebutkan adalah Allah menjadikannya. Jadi, Allah menjadikannya sesuai keinginan nafsunya seseorang. Jadi kalau nafsu seseorang ingin ibadah, maka Allah akan menjadikannya ibadah, maka istilah bahasanya adalah Allah menguatkannya untuk beribadah. Karena segalanya adalah bersumber dari Allah. Kalau seseorang ingin berusaha melakukan hal yang kurang baik, Allah menuruti. Maka, istilah bahasa nya adalah, Allah yang menjadikan dia jelek. Dan sebenarnya dasarnya, adalah dari nafsunya sendiri. Karena Allah sudah memberi petunjuk, yang baik lakukan, yang jelek jangan. Dan itu sudah lengkap sekali dalam alQur’an dan hadits. Mana yang harus kita lakukan, mana yang tidak boleh kita lakukan. Tetapi manusia pada akhirnya, kadang-kadang berbalik. Yang di perintah malah tidak di lakukan, yang di larang malah di lakukan.

Sahabat pembaca, berdasar hadits ini, orang itu di kehendaki baik, maka ia setiap hari dalam hidupnya merasa kecukupan. Merasa semuanya cukup, merasa kaya, merasa ayem –bahasa jawa- (tenang), merasa bahagia, merasa sejahtera, karena tidak ada yang kurang. Bagaimana ia merasa kurang? Karena ia bersyukur di beri berapa saja oleh Allah. Di beri uang untuk makan, sudah cukup, Alhamdulillah. Di beri lebih, bisa di tabung untuk beli mobil, Alhamdulillah. Menabung ingin haji, bisa haji, Alhamdulillah. Menabung, belum bisa haji, belum bisa beli mobil, ya dia tetap bersabar mensyukuri kiriman Allah. Allah belum memberi.

Sahabat pembaca, jadi, apapun yang ada dalam hatinya adalah rasa bahagia, rasa bersyukur. Nah, orang itu berarti, ia mengenal Allah, ia punya ilmu yang membahagiakan dirinya, yaitu ilmu tentang Allah. Ilmu tentang sifat-sifat Allah, ilmu tentang takdir Allah. Ilmu tentang apa saja dalam kehidupannya, yang setiap hari yang berhubungan dengan Allah. Nah, rasa taqwanya ada dalam hatinya (ﻮ ﺘﻘﺎﻩ ﻔﻰ ﻗﻠﺑﻪ).
Nabi Saw bersabda:
ﺍﻟﺘﻗﻭﻯ ﻫﻬﻨﺎ ﻮﺍﻟﺘﻗﻭﻯ ﻫﻬﻨﺎ ﻭﺍﻟﺘﻗﻭﻯ ﻫﻬﻨﺎ ﻮﺃﺸﺎﺭ ﻓﻰ ﺻﺪﺭﻩ
Artinya, taqwa itu, di sini, dan taqwa itu, di sini, dan taqwa itu, di sini (dan isyarat tangannya Nabi menempel ke dadanya) taqwa itu di dalam, di dalam hati, di dalam jiwa, di dalam ruh. Sedang yang muncul keluar adalah perilaku dari taqwa itu. Lalu dia suka shalat, suka dzikir, suka menolong, bekerja dengan jujur, apa saja yang di lakukan sesuai dengan dasar taqwa itu.
Nah sahabat pembaca, itu perwujudan dari taqwa itu. Dan taqwa sendiri, ada di dalam hati. Kalau hatinya baik, maka tentu akan melahirkan perilaku yang baik. Nabi bersabda :

ﺇﻦ ﻓﻰ ﺍﻟﺟﺴﺪ ﻟﻤﺿﻐﺔ ﺇﻦ ﺻﻟﺤﺖ ﺻﻟﺤﺖ ﺍﻟﺟﺴﺪ ﻜﻟﻪ ﻭﺇﻥ ﻓﺳﺩ ﺖ ﻓﺴﺩ ﺖ ﺍﻟﺟﺴﺩ ﻜﻟﻪ ﺃﻻ ﻭﻫﻰ ﺍﻟﻗﻟﺏ

Artinya, “Ketahuilah bahwa dalam tubuh manusia itu, ada segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka baiklah semua jasad itu. Jika segumpal daging  itu buruk, maka buruk semua jasad itu. Apakah itu? Ingatlah (ketahuilah) dan sesungguhnya segumpal daging itu, adalah hati”.

Sahabat pembaca, hatilah yang menentukan manusia itu baik atau buruk. Karena sumbernya dari hati tersebut di kendalikan oleh hati. Maka jika hati itu di dasari dengan taqwa, apapun yang keluar dari perilakunya, adalah perilaku benar, perilaku baik, perilaku yang membahagiakan, meskipun mungkin menurut sementara orang, itu kurang baik. Tetapi, ukuran kebaikan yang hakiki, adalah ukuran yang di berikan oleh Allah kepada kita, yaitu ukuran yang sesuai dengan norma-norma aturan Allah Swt.

Nah, sahabat pembaca, kalau orang itu di kehendaki jelek oleh Allah maka kefakirannya ada di hadapannya. Bangun tidur yang di pikirkan sudah, “nanti itu uang dari mana, cukup atau tidak, jangan-jangan tidak cukup. Waduh, cuman punya uang segini, tidak bisa untuk ini, itu … “ akhirnya yang adalah perasaan miskin, perasaan kurang, perasaan fakir, padahal mungkin dalam kenyataannya uangnya banyak, hanya saja yang di inginkannya lebih banyak dari uangnya, akhirnya tetap merasa fakir. Seberapapun uangnya, tetap fakir, dia tetap punya tabungan 1 milyar, tetapi ingin beli rumah yang 2 milyar. Tetap kurang. Mencari lagi dengan sengsara, supaya bisa memenuhi apa yang dia inginkan. Jadilah ia selalu setiap saat merasa fakir, merasa kurang. Di manakah letak kebahagiaan hidupnya? Kalau kita di tekan-tekan oleh ambisi nafsu kita? Tidak ada kebahagiaan, karena kita merasa fakir terus, kurang - kurang, ya Allah.. sebenarnya hati yang harus kita luruskan, kita benarkan, yaitu mensyukuri nikmat Allah. Betapa indahnya kalau kita merasa senang merasa ridho, di beri dalam ukuran berapa saja oleh Allah, itu yang terbaik untuk kita.

Kalau kita punya uang yang memang cukup untuk biaya hidup sehari-hari, tidak menjangkau yang aksesoris yang bermacam-macam, kita cukup bahagia, Alhamdulillah sudah cukup. Anak- anaknya sekolah, sehat semua, makan kenyang semua, Alhamdulillah. Di syukuri, ibadahnya bisa baik. Ternyata, Allah itu, kalau kita pandai bersyukur, Allah janji (dalam alQur'an), (ﻷﺯﻴﺪﻨﻜﻡ) yang artinya, “niscaya sungguh aku akan menambah kepadamu”.

Berarti orang yang suka syukur, itu bukannya kehidupannya semakin terpuruk, tetapi kehidupannya semakin meningkat, semakin di angkat derajatnya oleh Allah. Derajat dunia yang di angkat Allah akan mengakibatkan pula derajat di surga, insyaAllah.


Nah, seperti itu orang yang di kehendaki oleh Allah menjadi baik atau buruk. Ternyata, bisa di lihat dari perasaannya sendiri. Apakah ia merasa cukup, apa merasa kurang, dalam hatinya ada taqwa, atau justru tidak ada taqwa, Na’udzu billahi min dzaalik.

Etika Tidur

Etika Tidur

ﺇﺫﺍ ﺃﺘﻴﺖ ﻤﻀﺟﻌﻙ ﻓﺗﻮﺿﺄ ﻭﺿﻭﺀﻚ ﻟﻠﺼﻼﺓ٬  ﺛﻢ ﺍﺿﻄﺠﻊ ﻋﻟﻰ ﺸﻗﻚ ﺍﻷﻴﻤﻦ٬ ﺛﻡ ﻗﻞ : ﺍﻟﻟﻬﻢ ﺃﺴﻟﻤﺖ ﻮﺠﻬﻰ ﺇﻟﻴﻚ ﻭﻓﻮﺿﺖ ﺃﻤﺮﻯ ﺇﻟﻴﻚ٬ ﻭﺍﻟﺟﺄﺖ ﻆﻬﺮﻯ ﺇﻟﻴﻚ٬ ﺮﻏﺑﺔ ﺇﻟﻴﻚ٬ ﻻ ﻤﻠﺟﺄ ﻭﻻ ﻤﻨﺠﻰ ﻤﻨﻚ ﺇﻻ ﺇﻟﻴﻚ٬ ﺍﻟﻟﻬﻡ ﺃﻣﻨﺖ ﺑﻜﺗﺎﺑﻚ ﺍﻠﺫﻯ ﺃﻧﺯﻟﺖ ﻭﻨﺑﻴﻚ ﺍﻠﺫﻯ ﺃﺮﺴﻠﺖ ﴿ﺮﻮﺍﻩ ﺍﻟﺑﺧﺎﺭﻯ ﻮﻤﺴﻠﻡ﴾

Apabila engkau hendak mendatangi pembaringanmu, (hendak tidur) maka lakukanlah wudhu sebagaimana wudhu untuk shalat, kemudian baringkanlah dirimu pada lambung kananmu, lalu berdoa : “Ya Allah, aku serahkan diriku kepada-Mu, dan aku serahkan pula urusanku kepada-Mu, serta aku memohon perlindungan diri kepada-Mu dengan mengharapkan pahala-Mu. Tiada tempat untuk berlindung, dan tiada jalan selamat dari-Mu kecuali hanya kembali kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus.
(Riwayat Bukhori dan muslim).
Penjelasan :

Sahabat pembaca, Hadits ini menerangkan tentang hal-hal yang di sunahkan sebelum seseorang menuju ke tempat tidurnya, yaitu supaya berwudhu, kemudian posisi tidurnya miring pada lambung kanan, kemudian mengucapkan doa. Kalau doa di atas belum atau tidak hafal, maka biasanya doa pada umumnya adalah:

ﺑﺎﺴﻤﻚ ﺍﻟﻟﻬﻡ ﺃﺤﻴﺎ ﻮ ﺑﺎﺴﻤﻚ ﺃﻤﻮﺖ
Artinya, “Dengan Nama-Mu Ya Allah, aku hidup. Dan dengan Nama-Mu aku mati”

Nah, kalau itu sudah di kerjakan, maka berarti kita sudah mengikuti bagaimana tuntunan dan ajaran Rasulullah Saw. Ketika kita akan melaksanakan tidur.

Sahabat pembaca, tidur saja, bisa menjadi ibadah, bisa mendapatkan pahala, karena di awali dengan apa yang di tuntunkan oleh Rasulullah Saw. dengan wudhu. Bagaimana kalau tidak wudhu? Doa saja, boleh juga. Sesuatu yang di awali dengan doa, itu adalah ibadah. Jika tidak di awali dengan doa, tapi itu biasa kita kerjakan, itu di namakan adat/kebiasaan. Kita makan, tidur, mandi, ke WC, itu suatu hal yang biasa. Dan adat/kebiasaan tersebut bisa menjadi ibadah, bisa menjadi mendapat pahala, kalau ada niatnya. Maka niat adalah yang membedakan antara ibadah dengan adat/kebiasaan. Kalau ada niatnya, maka menjadi ibadah yang mendapatkan pahala. Biasanya niatnya itu, oleh Rasulullah Saw. Kita di ajari dengan doa. Otomatis, kalau kita berdoa untuk melakukan sesuatu, yang berarti niat akan melakukan sesuatu, yang berarti berdoa dahulu, berarti niat akan melakukan kebaikan. Mau makan, kita berdoa:
ﺍﻟﻟﻬﻡ ﺑﺎﺮﻚ ﻟﻧﺎ ﻓﻳﻤﺎ ﺮﺯﻗﺘﻧﺎ ﻭ ﻗﻨﺎ ﻋﺫﺍﺏ ﺍﻟﻨﺎﺮ

Yang artinya, “Ya Allah, berilah berkah kepada kami pada apa yang Engkau rezeki kan pada kami. Dan lindungilah kami dari siksa neraka”.

Mau makan berdoa, berarti makannya ibadah. Mau masuk WC berdoa, berarti ke WC nya ibadah. Mau tidur berdoa, berarti tidurnya ibadah. MasyaAllah, di catat sebagai ibadah dari tidur sampai bangun lagi. Mau tidur malam, niat setelah dia berdoa, lalu di dalam hati niat “nanti malam bangun untuk shalat tahajjud”, maka akan di mudahkan oleh Allah untuk dia bangun shalat tahajjud.

Kalau dia niat, benar-benar niat mau shalat tahajjud pada malamnya, ternyata ia bangunnya shubuh, bagaimana seperti itu? Niat saja, itu sudah di catat sebagai amal yang baik, itu sudah di catat pahalanya meskipun baru niat saja. Itu untuk amal baik.
Lalu untuk amal/pekerjaan jelek, baru niat, baru mau melakukan amal buruk, oleh Allah, oleh malaikat, belum di catat, tetapi di tunggu sampai ia melakukan keburukan yang di inginkan (yang di niatinya), kalau sudah di kerjakan keburukan (kemaksiatan) itu, baru di tulis dosanya. Dan itupun keburukan  satu, dosanya di tulis satu.
Tapi kalau kebaikan, baru niat saja sudah di tulis pahalanya, lalu di kerjakan, pekerjaannya misalnya satu, maka pahalanya bukan satu, tapi sepuluh. Nabi Saw. bersabda:

ﻤﻥ ﺠﺎﺀ ﺑﺎﻟﺤﺴﻧﺔ ﻓﻟﻪ ﻋﺸﺮﺃﻤﺜﺎﻠﻬﺎ
Artinya, “Barang siapa mengerjakan satu kebaikan, maka dia di beri sepuluh kali lipat pahalanya”, yang berarti sepuluh kali lipat kebaikan itu.

ﻭ ﻤﻥ ﺟﺎﺀ ﺑﺎﻟﺴﻴﺌﺔ ﻓﻼﻳﺠﺯﻯﺇﻻﻤﺜﻠﻬﺎ
Artinya, “dan barang siapa yang mengerjakan kejelekan, maka tidak dibalas, kecuali semisalnya”.

Berarti, kalau kejelekan satu, dosa satu. Amal baik satu, pahala sepuluh. Itulah karena sangat sayangnya Allah pada manusia. Sangat sayangnya Allah itu memberi motivasi supaya manusia itu suka melakukan ibadah, suka melakukan kebaikan. Sangat sayangnya Allah, kejelekan itu kalau belum di lakukan, belum di catat dosanya meskipun sudah sengaja melakukannya, yang berarti sudah niat melakukannya. Tapi kalau belum terlaksana, tidak di anggap dia melakukan kejelekan itu

Sahabat pembaca, ini  berbeda kalau niat baik, maka sebagaimana hadits ini tuntunan Rasulullah Saw. kalau kita mau tidur, supaya berdoa, yang baik wudhu dulu. Kalau kita sebelum tidur, dzikir terus sampai tertidur, ada yang mengatakan, tetap di catat bahwa kita punya pahala berdzikir itu.
Nah seperti itu bagusnya, kalau kita mau melakukan kebaikan…

Bila Adzan Telah Di Kumandangkan Pada Hari Jum’at

Bila Adzan Telah Di Kumandangkan Pada Hari Jum’at

ﺇﺫﺍ ﺃﺬﻦ ﺍﻟﻤﺅﺬﻦ ﻴﻮﻡ ﺍﻟﺟﻤﻌﺔ ﺤﺮﻢ ﺍﻠﻌﻤﻞ ﴿ﺮﻮﺍﻩ ﺍﻠﺪﻴﻟﻤﻰ﴾

Artinya, apabila adzan di kumandangkan oleh muadzin pada hari jum’at, maka bekerja di haramkan.
(Riwayat ad Dailamiy)
Penjelasan :

Sahabat pembaca, Bilamana muadzin mulai menyerukan suara adzannya di hari jum’at, maka segala pekerjaan, dan jual beli serta urusan-urusan duniawi lainnya tidak di perbolehkan. Semua orang pada saat itu di haruskan berangkat ke masjid untuk menunaikan shalat jum’at. Hadits ini, sama artinya dengan apa yang terkandung dalam firman-Nya, yaitu :

ﻴﺄﻴﻬﺎ ﺍﻟﺬﻴﻦ ﺀﻤﻨﻭﺍ ﺇﺫﺍ ﻨﻭﺩﻯ ﻠﻟﺻﻟﻮﺍﺓ ﻤﻥ ﻴﻮﻡ ﺍﻟﺟﻤﻌﺔ ﻓﺎﺴﻌﻭﺍ ﺇﻟﻰ ﺫﻛﺭﺍﷲ ﻭ ﺫﺭﻭﺍ ﺍﻟﺑﻴﻊ ۚ ﺬﻟﻛﻡ ﺧﻴﺮ ﻟﻜﻡ ﺇﻦ ﻛﻨﺗﻡ ﺗﻌﻟﻤﻭﻦ ۝

Artinya, “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli[1475]. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (al Jum’ah : 9).

[1475] Maksudnya: apabila imam telah naik mimbar dan muazzin telah azan di hari Jum'at, Maka kaum muslimin wajib bersegera memenuhi panggilan muazzin itu dan meninggalakan semua pekerjaannya.

Sahabat pembaca, shalat jum’at memang bagi pria itu fardhu (wajib). Jadi, berangkat –melaksanakan-nya adalah wajib, begitu pula shalatnya, ya wajib. Kalau kita melihat pada surat al Jum’ah : 9, yang di wajibkan shalat jum’at itu siapa?
… “wahai orang-orang yang telah beriman”,
laki-laki atau perempuan?
orang-orang yang telah beriman itu kan laki-laki dan perempuan?
Jadi, ayat yang asal dalam kewajiban shalat jum’at adalah sama dengan Allah mewajibkan puasa, yaitu :
ﻴﺄﻴﻬﺎ ﺍﻟﺬﻴﻥ ﺀﺍﻤﻨﻮﺍ ﻜﺘﺏ ﻋﻟﻴﻛﻢ ﺍﻟﺻﻴﺎﻡ ...۝   

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa …” (al Baqarah : 183).

Yaitu orang-orang yang beriman baik laki-laki maupun perempuan. Namun Nabi Saw. bersabda, shalat jum’at itu tidak wajib atas anak-anak, budak, orang yang sakit dan wanita. Maka lalu, di tetapkan oleh para ulama’ yaitu para imam, bahwa shalat jum’at tidak wajib bagi perempuan. Tidak wajib itu bukan tidak boleh, tetapi sunah. Namun demikian, yang sunah itu berangkatnya ke masjid. Adapun jika ada pria dan wanita dalam satu masjid melakukan shalat jum’at, maka semuanya sama (niatnya wajib) yakni :

ﺃﺻﻟﻰ ﻓﺮﺾ ﺍﻟﺟﻤﻌﺔ
Yang artinya, “Saya shalat fardhu jum’at …”
Bukan
ﺃﺻﻟﻰ ﺴﻨﺔ ﺍﻟﺟﻤﻌﺔ
Yang artinya, “Saya shalat sunah jum’at …”

Karena di wajibkannya sama. Maka, nanti kalau sudah pulang, ya sama sudah tidak wajib shalat dhuhur sama-sama, karena sudah melaksanakan shalat jum’at 2 raka’at. Kalau mau shalat dhuhur lagi, boleh apa tidak? Ya boleh. Tapi kalau tidak, ya tidak apa-apa. Karena sudah melaksanakan shalat jum’at.

Namun kalau di kota-kota besar, shalat jum’at jarang sekali di ikuti oleh para wanita, karena biasanya, kota-kota besar itu penduduknya padat, lalu masjid-masjid itu tidak bisa menampung wanita. Sudah penuh dengan jama’ah pria, maka wanita tidak jum’at-an, tidak apa-apa.
Wanita yang mau melaksanakan shalat jum’at, hukumnya sama dengan pria yang sakit berangkat melaksanakan shalat jum’at. Kalau dia tidak berangkat tidak apa-apa. Kalau dia sakit, tetap berangkat dan melaksanakan shalat jum’at, dia tetap dapat pahala. Shalat jum’at nya di dalam masjid ya tetap niat fardhu ﺃﺻﻟﻰ ﻓﺮﺾ ﺍﻟﺟﻤﻌﺔ . maka bukan sunah. Demikianlah penjelasan kali ini.

Akibat Sholat Yang Baik Dan Yang Buruk

Akibat Sholat Yang Baik Dan Yang Buruk

Sahabat pembaca, Nabi Saw bersabda :

ﺇﺫﺍ ﺃﺤﺴﻦ ﺍﻟﺮﺠﻞ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﺄﺗﻡ ﺮﻜﻭﻋﻬﺎ ﻮﺴﺟﻮﺪﻫﺎ ﻗﺎﻟﺖ ﺍﻟﺻﻼﺓ ﺤﻔﻈﻙ ﺍﷲ ﻛﻣﺎ ﺤﻔﻈﺘﻨﻰ٬ ﻓﺘﺮﻓﻊ ﻮﺇﺬﺍ ﺃﺴﺎﺀ ﺍﻠﺻﻼﺓ ﻔﻟﻢ ﻴﺗﻢ ﺮﻜﻭﻋﻬﺎ ﻭﺴﺟﻭﺪﻫﺎ ﻗﺎﻟﺖ ﺍﻟﺻﻼﺓ ﺿﻴﻌﻚ ﺍﷲ ﻛﻤﺎ ﺿﻴﻌﺘﻨﻰ٬ ﻓﺗﻠﻑ ﻜﻤﺎ ﻴﻠﻑ ﺍﻟﺛﻭﺏ ﺍﻟﺧﻟﻖ ﻓﻴﺿﺮﺏ ﺑﻬﺎ ﻭﺟﻬﻪ 
﴿ﺮﻮﺍﻩ ﺍﻟﻁﻴﺎﻟﺴﻰ ﻋﻦ ﻋﺑﺎﺩﺓ ﺑﻦ ﺍﻟﺼﺎﻤﺖ﴾

Apabila seseorang mengerjakan shalat dengan baik dan menyempurnakan rukuk serta sujudnya, niscaya shalat berkata: “Semoga Allah memelihara dirimu seperti engkau memelihara diriku”, lalu shalat itu di naikkan (di terima). Dan apabila seseorang mengerjakan shalat dengan buruk serta tidak meyempurnakan rukuk dan sujudnya, maka shalat berkata: “semoga Allah menyia-nyiakan dirimu sebagaimana engkau menyia-nyiakan diriku”, lalu shalat itu di gulung seperti pakaian yang lapuk di gulung, kemudian shalat itu di pukulkan ke muka pelakunya.
(Riwayat ath-thayali melalui ubadah ibnu shamit r.a.)
Penjelasan :

Sahabat Pembaca, Rasulullah Saw. Memberi pelajaran pada kita, bahwa jika seseorang melakukan sholat dengan baik yakni di awali dari baik bersuci/thoharohnya –wudhu’nya sempurna, pakaiannya suci, tempatnya suci, dia shalat lalu dia sempurnakan ruku’ dan sujudnya, tidak terburu-buru atau tergesa-gesa, sempurna sampai selesai shalat itu, maka –kalau toh saja jika kita bisa mendengar- sholat itu akan berkata “Semoga Allah memelihara, menjaga mu seperti sebagaimana engkau memelihara, menyempurnakan aku” maka di angkatlah pahala shalat itu, di terima oleh Allah.
dan kalau shalat kita acak-acakan, asal-asalan, keburu-buru, ruku’nya tidak sempurna, belum thuma’ninah, sudah akan I’tidal, tulang-tulangnya belum sempurna letaknya, sudah mau melakukan rukun berikutnya, sujudnya juga belum sempurna, baru mau menaruh atau tersentuh dahinya ke tempat sujud, belum membaca apa-apa sudah mau berdiri lagi, sudah duduk , maka seperti itu tentu yang tidak sempurna ruku’ dan sujudnya, belum thuma’ninah. Thuma’ninah itu tenang dalam melaksanakan semua rukun-rukunnya sholat .
sahabat pembaca, andai kita bisa mendengar –perkataan- nya sholat maka shalat itu akan berkata “kau menyia-nyiakan aku, maka semoga Allah menyia-nyia kan mu, karena tidak  menyempurnakan”. Maka -shalat tersebut seperti pakaian lapuk yang -di gulung, di lipat seperti lipatan baju lalu di pukulkan ke wajah pelakunya.
Maksudnya apa?
Shalat yang tidak sempurna itu menghinakan juga kepada pelakunya. Shalat yang tidak sempurna saja menghinakan, apalagi kalau kita tidak  shalat, masyaAllah, shalat itu kan wajib, rukun Islam, prinsip, fardhu.
Kalau tidak kita laksanakan, maka, agamanya tidak ada, Nabi bersabda yang artinya, “shalat itu tiang agama..”, dalam hadits lain,  yang artinya, “jika shalatnya baik, maka baik seluruh amalnya ..”. Hadits yang serupa, yang artinya, “barang siapa mendirikan shalat, maka dia telah menegakkan agama dalam jiwanya. Dan barang siapa merobohkan/meninggalkan shalat, maka dia telah merobohkan agama dalam jiwanya..”

Sahabat pembaca, maka shalat itu adalah prinsip. Apapun kesibukan kita, apapun pekerjaan kita, siapapun kita, maka shalat adalah sesuatu yang tidak bisa di tinggalkan oleh seseorang yang beriman kepada Allah. Jika kita tidak shalat, maka tidak ada agama dalam jiwa kita.
Kewajiban dari Allah itu tidak banyak, pernah di sampaikan, bahwa kalau kita di wajibkan puasa, maka –puasa tersebut terlaksana- hanya ketika pada bulan Ramadhan saja. Kemudian kalau di wajibkan zakat, maka terlaksana hanya bagi yang mampu saja yang sudah punya harta 1 nishab. Kalau kita di wajibkan haji, maka terlaksana hanya bagi yang mampu saja, kalau kita di beri rezeki lebih mencapai cukup untuk ongkos haji, itu baru wajib. Syahadat, sudah masuk dalam shalat. Tinggal shalat saja. Nah, shalat itu yang tidak bisa di tinggalkan oleh siapapun, tanpa biaya. Kalau tidak kuat berdiri pun, boleh dengan duduk, boleh dengan tidur, begitu mudahnya, sehingga tidak dibolehkan untuk di tinggalkan ibadah shalat itu.
Nah, sekarang sudah shalat, sempurna, masyaAllah, shalatnya itu akan mendoakan pelakunya termasuk juga makhluq-makhluq yang lain.
Jika seseorang melaksanakan shalat, tapi asal-asalan, terburu-buru, kacau balau bacaannya, belum sempurna, apalagi bacaannya salah, masyaAllah, lalu itu sama dengan menyia-nyiakan shalat yang nanti juga akan didoakan shalat itu sendiri, di sia-siakan oleh Allah, maka lalu menjadikan dia lalu di pukul wajahnya dengan shalat yang acak-acakan itu, yang tadi di katakan menghinakan dirinya, nah seperti itu..
Sahabat pembaca, shalat itu, satu-satunya amalan rukun Islam yang tidak dapat di tinggalkan dalam kondisi apapun, Allah berfirman di dalam banyak ayat, diantaranya:

ﻭ ﺃﻗﻴﻤﻭﺍ ﺍﻟﺻﻟﻭﺓ ... ۝
Artinya, “dan dirikanlah shalat ...” (al Baqarah: 43)

... ﺇﻥ ﺍﻟﺻﻟﻭﺓ ﺗﻨﻬﻰ ﻋﻦ ﺍﻟﻓﺤﺷﺎﺀ ﻭ ﺍﻠﻤﻨﻛﺭ ۝
Artinya, “sesungguhnya shalat itu mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan perbuatan
 (munkar , perbuatan jahat ...” (al ‘Ankabuut : 45

Maka kalau shalatnya belum bisa mencegah seseorang dari –perbuatan keji dan perbuatan munkar , perbuatan jahat-, maka shalatnya yang perlu di tingkatkan kualitasnya, perlu di perbaiki bacaannya, gerakannya, lalu kondisi jiwanya, ketika melaksanakan shalat itu. Dan urusan apapun, yang paling besar adalah urusan dzikrullah, Allah berfirman :

ﻭ ﻟﺬﻛﺮ ﺍﷲ ﺃﻛﺑﺭ ۗ ... ۝
Artinya, “… dan niscaya urusan dzikir Allah itu adalah urusan yang maha besar, (yang paling besar) ...”. al ‘Ankabuut : 45
 ... ﻮ ﺃﻗﻡ ﺍﻟﺻﻟﻭﺍﺓ ﻟﺬﻛﺮﻯ ۝

Artinya, “… dan dirikanlah shalat untuk dzikr aku ...” (Thaha : 14)

Sahabat pembaca, maka urusan shalat adalah urusan yang paling besar di antara urusan-urusan dalam kehidupan kita sehari-hari. Maka jika kita memperhatukan shalat, maka Allah memperhatikan kita, karena hal itu merupakan urusan yang paling besar dari sekian urusan.
Kita sedang kerja, memasak, atau di mana saja, di perjalanan misalnya, kita bisa merancang di mana saya harus bisa melaksanakan shalat. Jika memang waktunya habis, bahkan di kendaraan pun kita masih bisa melaksanakan ibadah shalat itu, bahkan ketika –kesulitan- menghadap kiblat pun. Bukankah Allah berfirman :

... ﻓﺄﻴﻧﻤﺎ ﺗﻭﻟﻭﺍ ﻓﺛﻡ ﻮﺟﻪ ﺍﷲ ۚ ... ۝

Artinya, “… maka di manapun kalian menghadap, maka disana kalian bisa menemukan dzat Allah ...” (al Baqarah : 115)

Itu dalam keadaan terpaksapun demikian. Kalau sekiranya kalo turun –dari kendaraan- nanti dan waktu shalat sudah habis.

Kamis, 13 Februari 2014

PENTINGNYA PENDIDIKAN THARIQAT BAGI MASYARAKAT MODERN



Oleh: Mihmidaty Ya’cub

Abstrak: Berangkat dari kenyataan bahwa dalam kehidupan masyarakat modern, manusia cenderung mengejar kabahagiaan lahiriyah, dengan mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya. Akan tetapi setelah materi terkumpul dan semua fasilitas hidup terpenuhi, kebahagiaan dan ketentraman hidup yang hakiki belum juga dapat  dirasakan. Di sisi lain, pendidikan thariqah merupakan bimbingan tentang cara mendekatkan diri kepada Allah sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki di dunia dan di akhirat. Dalam tulisan ini akan menjelaskan tentang pendidikan thariqah ini sebagai solusi bagi masyarakat modern yang mendambakan kebahagiaan hidup yang hakiki.  Dengan mengikuti pendidikan thariqat yakni mengikuti bimbingan guru mursyid, melaksanakan ajaran-ajarannya dan menapaki tahapan- tahapannya, akan dapat menggapai kebahagiaan hidup yang sebenar-benarnya, karena telah dapat memposisikan diri dekat dengan Allah sehingga dapat merasakan ketentraman hati.

Kata Kunci: Pendidikan Thariqah, masyarakat modern.

  1. Latar Belakang

            Manusia diciptakan oleh Allah SWT. dari unsur jasmani dan rohani. Jasmani diciptakan berasal dari  tanah (saripati tanah ) , sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Mu’minun ayat 12: 

و لقد خلقنا الانسان من سللة من طين     
    

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari sari pati dari tanah.
      Maka segala sesuatu yang menyenangkan jasmani adalah sesuatu yang berasal dari tanah ( makanan, minuman,dll.). Sedangkan rohani atau ruh berasal dari Allah SWT. sesuai dengan QS. Al-Sajdah ayat 9



ثم سوىه من روحه و جعل لكم السمع و لابصار والافئدة  قليلا ما تشكرون


Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan kedalam (tubuh)nya dari rohNya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati 

 Maka kebahagiaan dan ketentraman ruh adalah dengan mendapatkan  sesuatu yang 
datangnya dari Allah SWT. yaitu syari’at Islam dan bisa berkomunikasi denganNya.
        Sementara di sisi lain perkembangan kehidupan manusia  dewasa ini semakin berkembang dengan cepat yang di kenal dengan era globalisasi. Globalisasi berawal dari transportasi dan komunikasi yang akhirnya berdampak luas pada bidang ekonomi dan perdagangan sebagai tujuan utama dari komunikasi dan transportasi global.[1] Pada perkembangan selanjutnaya globalisasi mengambil bentuk suatu kecenderungan percepatan informasi sebagai akibat dari kemajuan yang pesat dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer, faxímile, internet dan lain-lain. Pada saat ini manusia berada di tengah-tengah kehidupan masyarakat modern. Pada umumnya kontak antara anggota masyarakat atas dasar prinsip-prinsip fungsional pragmatis, cenderung rasionalis, sekuler dan materiales.[2] Hati mereka semakin jauh dari citra syariat , bahkan mereka menganggap remeh dan acuh tak acuh terhadap persoalan agama, sehingga mereka terhempas pada pandangan yang tidak memisahkan halal dan haram, meremehkan puasa dan shalat, terjerumus dalam medan kealpaan menancapkan tonggak-tonggak syahwat, tanpa


[1] J.Soejati Djiwandono, Globalisasi dan pendidikan Nilai dalam Sindunata ( Yogyakarta:Kanisius,2000) hal. 186
[2] Amin Syakur,The Social Consequence of Tasawuf, International Journal Ihya’ Ulum al-Din, Number 01,Volume I, 1999

      peduli menerjang larangan-larangan, Bangga atas apa yang mereka peroleh.[1] 
Ternyata kehidupan mereka tidak bahagía, diliputi kegelisahan karena takut kehilangan apa yang dimilikinya, rasa kecewa, tertekan dan tidak puas akibat banyak berbuat salah[2]. Hal ini diisyaratkan oleh Allah dengan firmanNya dalam al-Qur an surat al-Hadid ayat 20 :

اعلموا انما الحياة الدنيا لعب و لهو وزنه وتفاحر بينكم وتكاثر في الاموال و الاولىد كمثل غوث نعجب اكفار نباته ثم يهيج فترىه مصفرا ثم يكون حطىما وفي الاخرة عذاب شديد ومغفرة من الله و رضوان و ما الحيوة الدنيا الا متاع الغرور

Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu dan berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kau lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.
Dalam kehidupan nyata, banyak manusia yang mengejar kabahagiaan dengan mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya tetapi setelah materi terkumpul dan semua fasilitas hidup terpenuhi, kebahagiaan dan ketentraman hidup yang hakiki belum juga dapat  dirasakan. Hal ini karena yang dapat merasakan bahagía dan tentram adalah roh, sedangkan ruh itu berasal dari Allah, maka ia dapat merasa bahagia dan tenteram yang sesungguhnya kalau melaksanakan syariat Islam dan mendekatkan diri padaNya.

[1] Imam al-Qusyairy al-Naisabury, Risalah al-Qusyairiyah ( Surabaya: Rízala Gusti, 1999) hal,3
[2] Amin Syukur, The Social Consequence of Tasawuf,
 


Cara-cara mendekatkan diri kepada Allah ini, dilaksanakan dalam proses pendidikan thariqah yang dibimbing oleh seorang guru mursyid ( istilah guru dalampendidikan thariqah).

  1. Perumusan Masalah
      Perumusan masalah dalam penulisan ini adalah sebagai   berikut:
1.                 Apa pengertian pendidikan thariqat, apa saja ajarannya?
2.                  Bagaimana ciri kehidupan masyarakat modern ?
3.                 Apa saja problematika masyarakat modern terhadap pendidikan thariqat ?
4.                 Pentingnya pendidikan thariqat bagi masyarakat modern?

  1. Pengertian Pendidikan Thariqat.
        Thariqat adalah jalan, petunjuk dalam melakukan suatu ibadah sesuai dengan ajaran yang ditentukan dan dicontohkan oleh Nabi dan dikerjakan oleh Sahabat dan Tabi’in, turun temurun sampai pada guru-guru (mursyid ), sambung-sinambung dan rantai berantai.[1] Menurut Qutbaddin , Tarekat adalah “ jalan “ yang ditempuh para sufi, dan digambarkan sebagai jalan yang berpangkal dari syariat, sebab jalan utama disebut syar’ sedangkan anak jalan disebut tariq, menurut anggapan para sufi, pendidikan mistik ( tasawuf ) merupakan cabang dari jalan utama yang terdiri atas hukum Ilahi, tempat berpijak bagi setiap muslim. [2]
Dari pengertian tersebut menunjukkan bahwa tarekat merupakan jalan atau cara beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah yang berpangkal dari syariat. Tujuannya adalah menyucikan jiwa (tazkiyah al-nasf ), membersihkan hati ( tashfiyah al-qulub ) dan mendekatkan diri


[1] Abu Bakar Atjeh, Pengantar Ilmu Tarekat ( Solo :Ramadlan, 1990), hal. 67
[2] Qutbaddin al-‘Ibadi, Al-Tasfuja fi ahwal al-sufiya, or Sufiname, ed. Ghulam Muhammad Yusuf (Tehran: 1347H / 1968 M ) ,hal.15
  
kepada Allah ( taqarrub ila Allah ).[1] Inti amalannya adalah dzikir ( ingat Allah ). [2]
Sedangkan pengertian pendidikan adalah mengasuh jasmani dan rohani, supaya sampai pada keindahan dan kesempurnaan yang mungkin dicapai.[3]),
Jadi pendidikan thariqat adalah bimbingan cara Ibadah oleh mursyid/ guru terhadap perkembangan mental spiritual murid agar dapat beribadah sesuai dengan syariat untuk mendekatkan diri kepada Allah sedekat-dekatnya agar terbentuk kepribadian sempurna yang mungkin dicapai.
Perbedaan pendidikan thariqat dengan pendidikan pada umumnya adalah bahwa guru dalam pendidikan thariqat adalah mursyid yaitu orang khusus yang sudah ma’rifat yaitu tingkat tertinggi, dimana orang telah mencapai kesucian hidup dalam alam rohani, memiliki pandangan tembus ( kasyaf ) dan mengetahui hakikat dan kebesaran Allah.[4]dan sudah mendapat ijazah dari gurunya sebagaimana tersebut dalam silsilahnya.[5] Tujuannya adalah mensucikan jiwa (tazkiyah al-nasf ), membersihkan hati (tashfiyah al-qulub), dan mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ala Allah).[6] Muridnya adalah orang-orang yang ingin mensucikan diri untuk mencapai kebahagiaan akhirat, meskipun tetap melaksanakan kegiatan duniawi sebagai sarana mencapai akhirat.
Thariqat yang diamalkan orang-orang sufi, dengan tujuan kesucian ini, melalui empat tingkat, yaitu pertama syari’at, mengetahui dan mengamalkan ketentuan-ketentuan syari’at. Kedua thariqat, mengerjakan amalan hati, dengan aqidah yang teguh. Ketiga hakikat, cahaya musyahadah yang bersinar cemerlang dalam hati, sehingga dapat


[1] A.Wahib Mu’thi, Tarekat: Sejarah timbulnya,macam-macam dan ajaran-ajarannya( Jakarta: Yayasan wakaf Paramadina, tt.) hal 141
[2] Abu Bakar Atjeh, hal 60
[3] Aisah Dahlan,Membina Rumah Tangga Bahagia (Jakarta: Yamunu, 1969), hal. 127
[4] Mahmud Abu al-Faidl al-Manufi,Al-Tasawuf al-Islamal-Khalish(Kairo, Dar al-Nahdlah, tt.)  11
[5] Abu Bakar Atjeh, Pengantar Ilmu Tarekat.
[6] A.Wahid Mu’thi, Tarekat: Sejarah timbulnya, macam-macam dan ajaran-ajarannya ( Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1998). Hal. 141
  
mengetahui hakikat Allah dan rahasia semesta. Dan keempat adalah ma’rifat.[1]
Thariqat yang pengertiannya adalah jalan atau cara Ibadah, dalam perkembangan selanjutnya juga dipakai sebagai nama dari organisasi perkumpulan thariqat tertentu untuk mempermudah mengorganisir jama’ah pengikutnya, tanpa menghilangkan pengertian aslinya. Hal ini tidak menimbulkan masalah bagi masyarakat, bahkan lebih berdampak positif, karena memudahkan masyarakat yang memperhatikan dan bahkan berminat mengikutinya untuk dapat menilai atau memilih thariqat mana yang sesuai dengan kecenderungannya.
           
         D. Materi Pendidikan Thariqat
                        Materi pendidikan thariqat menyangkut ilmu tauhid, fiqih dan tasawuf yang mengacu pada pensucian jira, pembersihan hati dan pendekatan diri kepada Allah. Diajarkan kepada murid berupa ajaran-ajaran thariqat.
Adapaun ajaran-ajaran thariqat tersebut meliputi :
1.      Istighfar, adalah meminta ampun kepada Allah dari segala dosa dan kesalahan yang telah diperbuat oleh seseorang dan berpaling dari perbuatan itu.[2] Sebagaimana firman Allah dalam Qirsn surat Nuh ayat 10.
فقلت استغفروا  ربكم انه كان غفارا 

Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-,

      Esensi istighfar adalah bertaubat kepadaNya dengan jalan menyesali kesalahan dan bertekat untuk tidak mengulangi perbuatan itu.[1] Memohon ampun


[1] Ummu Salamah,Tradisi dan Akhlak PengamalTarekat,( Garut: Yayasan al-Musaddadiyah, 2001), hal. 166  

[1] Mahmud Abu,Al-Tasawuf.
[2] Ali Ibnu Muhammad al-Jurjani, al-Ta’rifat ( Beirut; Dar al-kutub al- ilmiyah, 1988,), hal.18

1.      Shalawat, membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. untuk memohonkan rahmat kepada Nabi dan diharapkan Allah akan memberikan rahmat dan karunia kepada pembacanya. Nabi sebagai puntu bagi manusia untuk bisa sampai ( wushul ) kepada Allah. Allah memerintah kepada manusia supaya membaca shalawat, sebagaimana firmanNya dalam Q.S. A.-Ahzap ayat 56 :
  
ان الله وملئكته  يصلون علي النبي يايها الذين امنوا صلوا عليه و سلموا تسليما

 
Sesungguhnya Allah dan MalaikatNya membaca shalawat atas Nabi, wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian atasnya dan ucapkan salam penghormatan kepadanya.