Kamis, 13 Februari 2014

PENTINGNYA PENDIDIKAN THARIQAT BAGI MASYARAKAT MODERN



Oleh: Mihmidaty Ya’cub

Abstrak: Berangkat dari kenyataan bahwa dalam kehidupan masyarakat modern, manusia cenderung mengejar kabahagiaan lahiriyah, dengan mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya. Akan tetapi setelah materi terkumpul dan semua fasilitas hidup terpenuhi, kebahagiaan dan ketentraman hidup yang hakiki belum juga dapat  dirasakan. Di sisi lain, pendidikan thariqah merupakan bimbingan tentang cara mendekatkan diri kepada Allah sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki di dunia dan di akhirat. Dalam tulisan ini akan menjelaskan tentang pendidikan thariqah ini sebagai solusi bagi masyarakat modern yang mendambakan kebahagiaan hidup yang hakiki.  Dengan mengikuti pendidikan thariqat yakni mengikuti bimbingan guru mursyid, melaksanakan ajaran-ajarannya dan menapaki tahapan- tahapannya, akan dapat menggapai kebahagiaan hidup yang sebenar-benarnya, karena telah dapat memposisikan diri dekat dengan Allah sehingga dapat merasakan ketentraman hati.

Kata Kunci: Pendidikan Thariqah, masyarakat modern.

  1. Latar Belakang

            Manusia diciptakan oleh Allah SWT. dari unsur jasmani dan rohani. Jasmani diciptakan berasal dari  tanah (saripati tanah ) , sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Mu’minun ayat 12: 

و لقد خلقنا الانسان من سللة من طين     
    

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari sari pati dari tanah.
      Maka segala sesuatu yang menyenangkan jasmani adalah sesuatu yang berasal dari tanah ( makanan, minuman,dll.). Sedangkan rohani atau ruh berasal dari Allah SWT. sesuai dengan QS. Al-Sajdah ayat 9



ثم سوىه من روحه و جعل لكم السمع و لابصار والافئدة  قليلا ما تشكرون


Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan kedalam (tubuh)nya dari rohNya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati 

 Maka kebahagiaan dan ketentraman ruh adalah dengan mendapatkan  sesuatu yang 
datangnya dari Allah SWT. yaitu syari’at Islam dan bisa berkomunikasi denganNya.
        Sementara di sisi lain perkembangan kehidupan manusia  dewasa ini semakin berkembang dengan cepat yang di kenal dengan era globalisasi. Globalisasi berawal dari transportasi dan komunikasi yang akhirnya berdampak luas pada bidang ekonomi dan perdagangan sebagai tujuan utama dari komunikasi dan transportasi global.[1] Pada perkembangan selanjutnaya globalisasi mengambil bentuk suatu kecenderungan percepatan informasi sebagai akibat dari kemajuan yang pesat dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer, faxímile, internet dan lain-lain. Pada saat ini manusia berada di tengah-tengah kehidupan masyarakat modern. Pada umumnya kontak antara anggota masyarakat atas dasar prinsip-prinsip fungsional pragmatis, cenderung rasionalis, sekuler dan materiales.[2] Hati mereka semakin jauh dari citra syariat , bahkan mereka menganggap remeh dan acuh tak acuh terhadap persoalan agama, sehingga mereka terhempas pada pandangan yang tidak memisahkan halal dan haram, meremehkan puasa dan shalat, terjerumus dalam medan kealpaan menancapkan tonggak-tonggak syahwat, tanpa


[1] J.Soejati Djiwandono, Globalisasi dan pendidikan Nilai dalam Sindunata ( Yogyakarta:Kanisius,2000) hal. 186
[2] Amin Syakur,The Social Consequence of Tasawuf, International Journal Ihya’ Ulum al-Din, Number 01,Volume I, 1999

      peduli menerjang larangan-larangan, Bangga atas apa yang mereka peroleh.[1] 
Ternyata kehidupan mereka tidak bahagía, diliputi kegelisahan karena takut kehilangan apa yang dimilikinya, rasa kecewa, tertekan dan tidak puas akibat banyak berbuat salah[2]. Hal ini diisyaratkan oleh Allah dengan firmanNya dalam al-Qur an surat al-Hadid ayat 20 :

اعلموا انما الحياة الدنيا لعب و لهو وزنه وتفاحر بينكم وتكاثر في الاموال و الاولىد كمثل غوث نعجب اكفار نباته ثم يهيج فترىه مصفرا ثم يكون حطىما وفي الاخرة عذاب شديد ومغفرة من الله و رضوان و ما الحيوة الدنيا الا متاع الغرور

Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu dan berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kau lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.
Dalam kehidupan nyata, banyak manusia yang mengejar kabahagiaan dengan mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya tetapi setelah materi terkumpul dan semua fasilitas hidup terpenuhi, kebahagiaan dan ketentraman hidup yang hakiki belum juga dapat  dirasakan. Hal ini karena yang dapat merasakan bahagía dan tentram adalah roh, sedangkan ruh itu berasal dari Allah, maka ia dapat merasa bahagia dan tenteram yang sesungguhnya kalau melaksanakan syariat Islam dan mendekatkan diri padaNya.

[1] Imam al-Qusyairy al-Naisabury, Risalah al-Qusyairiyah ( Surabaya: Rízala Gusti, 1999) hal,3
[2] Amin Syukur, The Social Consequence of Tasawuf,
 


Cara-cara mendekatkan diri kepada Allah ini, dilaksanakan dalam proses pendidikan thariqah yang dibimbing oleh seorang guru mursyid ( istilah guru dalampendidikan thariqah).

  1. Perumusan Masalah
      Perumusan masalah dalam penulisan ini adalah sebagai   berikut:
1.                 Apa pengertian pendidikan thariqat, apa saja ajarannya?
2.                  Bagaimana ciri kehidupan masyarakat modern ?
3.                 Apa saja problematika masyarakat modern terhadap pendidikan thariqat ?
4.                 Pentingnya pendidikan thariqat bagi masyarakat modern?

  1. Pengertian Pendidikan Thariqat.
        Thariqat adalah jalan, petunjuk dalam melakukan suatu ibadah sesuai dengan ajaran yang ditentukan dan dicontohkan oleh Nabi dan dikerjakan oleh Sahabat dan Tabi’in, turun temurun sampai pada guru-guru (mursyid ), sambung-sinambung dan rantai berantai.[1] Menurut Qutbaddin , Tarekat adalah “ jalan “ yang ditempuh para sufi, dan digambarkan sebagai jalan yang berpangkal dari syariat, sebab jalan utama disebut syar’ sedangkan anak jalan disebut tariq, menurut anggapan para sufi, pendidikan mistik ( tasawuf ) merupakan cabang dari jalan utama yang terdiri atas hukum Ilahi, tempat berpijak bagi setiap muslim. [2]
Dari pengertian tersebut menunjukkan bahwa tarekat merupakan jalan atau cara beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah yang berpangkal dari syariat. Tujuannya adalah menyucikan jiwa (tazkiyah al-nasf ), membersihkan hati ( tashfiyah al-qulub ) dan mendekatkan diri


[1] Abu Bakar Atjeh, Pengantar Ilmu Tarekat ( Solo :Ramadlan, 1990), hal. 67
[2] Qutbaddin al-‘Ibadi, Al-Tasfuja fi ahwal al-sufiya, or Sufiname, ed. Ghulam Muhammad Yusuf (Tehran: 1347H / 1968 M ) ,hal.15
  
kepada Allah ( taqarrub ila Allah ).[1] Inti amalannya adalah dzikir ( ingat Allah ). [2]
Sedangkan pengertian pendidikan adalah mengasuh jasmani dan rohani, supaya sampai pada keindahan dan kesempurnaan yang mungkin dicapai.[3]),
Jadi pendidikan thariqat adalah bimbingan cara Ibadah oleh mursyid/ guru terhadap perkembangan mental spiritual murid agar dapat beribadah sesuai dengan syariat untuk mendekatkan diri kepada Allah sedekat-dekatnya agar terbentuk kepribadian sempurna yang mungkin dicapai.
Perbedaan pendidikan thariqat dengan pendidikan pada umumnya adalah bahwa guru dalam pendidikan thariqat adalah mursyid yaitu orang khusus yang sudah ma’rifat yaitu tingkat tertinggi, dimana orang telah mencapai kesucian hidup dalam alam rohani, memiliki pandangan tembus ( kasyaf ) dan mengetahui hakikat dan kebesaran Allah.[4]dan sudah mendapat ijazah dari gurunya sebagaimana tersebut dalam silsilahnya.[5] Tujuannya adalah mensucikan jiwa (tazkiyah al-nasf ), membersihkan hati (tashfiyah al-qulub), dan mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ala Allah).[6] Muridnya adalah orang-orang yang ingin mensucikan diri untuk mencapai kebahagiaan akhirat, meskipun tetap melaksanakan kegiatan duniawi sebagai sarana mencapai akhirat.
Thariqat yang diamalkan orang-orang sufi, dengan tujuan kesucian ini, melalui empat tingkat, yaitu pertama syari’at, mengetahui dan mengamalkan ketentuan-ketentuan syari’at. Kedua thariqat, mengerjakan amalan hati, dengan aqidah yang teguh. Ketiga hakikat, cahaya musyahadah yang bersinar cemerlang dalam hati, sehingga dapat


[1] A.Wahib Mu’thi, Tarekat: Sejarah timbulnya,macam-macam dan ajaran-ajarannya( Jakarta: Yayasan wakaf Paramadina, tt.) hal 141
[2] Abu Bakar Atjeh, hal 60
[3] Aisah Dahlan,Membina Rumah Tangga Bahagia (Jakarta: Yamunu, 1969), hal. 127
[4] Mahmud Abu al-Faidl al-Manufi,Al-Tasawuf al-Islamal-Khalish(Kairo, Dar al-Nahdlah, tt.)  11
[5] Abu Bakar Atjeh, Pengantar Ilmu Tarekat.
[6] A.Wahid Mu’thi, Tarekat: Sejarah timbulnya, macam-macam dan ajaran-ajarannya ( Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1998). Hal. 141
  
mengetahui hakikat Allah dan rahasia semesta. Dan keempat adalah ma’rifat.[1]
Thariqat yang pengertiannya adalah jalan atau cara Ibadah, dalam perkembangan selanjutnya juga dipakai sebagai nama dari organisasi perkumpulan thariqat tertentu untuk mempermudah mengorganisir jama’ah pengikutnya, tanpa menghilangkan pengertian aslinya. Hal ini tidak menimbulkan masalah bagi masyarakat, bahkan lebih berdampak positif, karena memudahkan masyarakat yang memperhatikan dan bahkan berminat mengikutinya untuk dapat menilai atau memilih thariqat mana yang sesuai dengan kecenderungannya.
           
         D. Materi Pendidikan Thariqat
                        Materi pendidikan thariqat menyangkut ilmu tauhid, fiqih dan tasawuf yang mengacu pada pensucian jira, pembersihan hati dan pendekatan diri kepada Allah. Diajarkan kepada murid berupa ajaran-ajaran thariqat.
Adapaun ajaran-ajaran thariqat tersebut meliputi :
1.      Istighfar, adalah meminta ampun kepada Allah dari segala dosa dan kesalahan yang telah diperbuat oleh seseorang dan berpaling dari perbuatan itu.[2] Sebagaimana firman Allah dalam Qirsn surat Nuh ayat 10.
فقلت استغفروا  ربكم انه كان غفارا 

Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-,

      Esensi istighfar adalah bertaubat kepadaNya dengan jalan menyesali kesalahan dan bertekat untuk tidak mengulangi perbuatan itu.[1] Memohon ampun


[1] Ummu Salamah,Tradisi dan Akhlak PengamalTarekat,( Garut: Yayasan al-Musaddadiyah, 2001), hal. 166  

[1] Mahmud Abu,Al-Tasawuf.
[2] Ali Ibnu Muhammad al-Jurjani, al-Ta’rifat ( Beirut; Dar al-kutub al- ilmiyah, 1988,), hal.18

1.      Shalawat, membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. untuk memohonkan rahmat kepada Nabi dan diharapkan Allah akan memberikan rahmat dan karunia kepada pembacanya. Nabi sebagai puntu bagi manusia untuk bisa sampai ( wushul ) kepada Allah. Allah memerintah kepada manusia supaya membaca shalawat, sebagaimana firmanNya dalam Q.S. A.-Ahzap ayat 56 :
  
ان الله وملئكته  يصلون علي النبي يايها الذين امنوا صلوا عليه و سلموا تسليما

 
Sesungguhnya Allah dan MalaikatNya membaca shalawat atas Nabi, wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian atasnya dan ucapkan salam penghormatan kepadanya.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar