Oleh: Mihmidaty Ya’cub
Abstrak: Berangkat dari kenyataan bahwa dalam
kehidupan masyarakat modern, manusia cenderung mengejar kabahagiaan lahiriyah,
dengan mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya. Akan tetapi setelah materi
terkumpul dan semua fasilitas hidup terpenuhi, kebahagiaan dan ketentraman
hidup yang hakiki belum juga dapat
dirasakan. Di sisi lain, pendidikan thariqah merupakan bimbingan tentang
cara mendekatkan diri kepada Allah sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan
yang hakiki di dunia dan di akhirat. Dalam tulisan ini akan menjelaskan tentang
pendidikan thariqah ini sebagai solusi bagi masyarakat modern yang mendambakan
kebahagiaan hidup yang hakiki. Dengan
mengikuti pendidikan thariqat yakni mengikuti bimbingan guru mursyid, melaksanakan
ajaran-ajarannya dan menapaki tahapan- tahapannya, akan dapat menggapai
kebahagiaan hidup yang sebenar-benarnya, karena telah dapat memposisikan diri
dekat dengan Allah sehingga dapat merasakan ketentraman hati.
Kata Kunci: Pendidikan
Thariqah, masyarakat modern.
- Latar Belakang
Manusia
diciptakan oleh Allah SWT. dari unsur jasmani dan rohani. Jasmani diciptakan
berasal dari tanah (saripati tanah ) ,
sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Mu’minun ayat 12:
و لقد خلقنا الانسان من سللة من طين
Dan sesungguhnya Kami
telah menciptakan manusia dari sari pati dari tanah.
Maka segala sesuatu yang menyenangkan jasmani
adalah sesuatu yang berasal dari tanah ( makanan, minuman,dll.). Sedangkan
rohani atau ruh berasal dari Allah SWT. sesuai dengan QS. Al-Sajdah ayat 9:
ثم سوىه من روحه و جعل لكم السمع و لابصار والافئدة قليلا ما تشكرون
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan kedalam (tubuh)nya dari
rohNya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati
Maka kebahagiaan dan ketentraman ruh adalah dengan
mendapatkan sesuatu yang
datangnya dari
Allah SWT. yaitu syari’at Islam dan bisa berkomunikasi denganNya.
Sementara di sisi lain perkembangan
kehidupan manusia dewasa ini semakin
berkembang dengan cepat yang di kenal dengan era globalisasi. Globalisasi
berawal dari transportasi dan komunikasi yang akhirnya berdampak luas pada
bidang ekonomi dan perdagangan sebagai tujuan utama dari komunikasi dan
transportasi global.[1]
Pada perkembangan selanjutnaya globalisasi mengambil bentuk suatu kecenderungan
percepatan informasi sebagai akibat dari kemajuan yang pesat dalam bidang
teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer, faxímile, internet dan
lain-lain.
Pada saat ini manusia berada di tengah-tengah
kehidupan masyarakat modern. Pada umumnya kontak antara anggota masyarakat atas
dasar prinsip-prinsip fungsional pragmatis, cenderung rasionalis, sekuler dan
materiales.[2] Hati mereka semakin jauh
dari citra syariat , bahkan mereka menganggap remeh dan acuh tak acuh terhadap
persoalan agama, sehingga mereka terhempas pada pandangan yang tidak memisahkan
halal dan haram, meremehkan puasa dan shalat, terjerumus dalam medan kealpaan
menancapkan tonggak-tonggak syahwat, tanpa
[1]
J.Soejati Djiwandono, Globalisasi dan pendidikan Nilai dalam Sindunata (
Yogyakarta:Kanisius,2000) hal. 186
[2]
Amin Syakur,The Social Consequence of Tasawuf, International Journal
Ihya’ Ulum al-Din, Number 01,Volume I, 1999
peduli menerjang
larangan-larangan, Bangga atas apa yang mereka peroleh.[1]
Ternyata kehidupan
mereka tidak bahagía, diliputi kegelisahan karena takut kehilangan apa yang
dimilikinya, rasa kecewa, tertekan dan tidak puas akibat banyak berbuat salah[2].
Hal ini diisyaratkan oleh Allah dengan firmanNya dalam al-Qur an surat al-Hadid
ayat 20 :
اعلموا انما الحياة الدنيا لعب و لهو وزنه وتفاحر بينكم وتكاثر في الاموال و الاولىد كمثل غوث نعجب اكفار نباته ثم يهيج فترىه مصفرا ثم يكون حطىما وفي الاخرة عذاب شديد ومغفرة من الله و رضوان و ما الحيوة الدنيا الا متاع الغرور
Ketahuilah bahwa
kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan
dan bermegah-megahan antara kamu dan berbangga-banggaan tentang banyaknya harta
dan anak, seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani,
kemudian tanaman itu menjadi kering dan kau lihat warnanya kuning kemudian
menjadi hancur.
Dalam kehidupan nyata,
banyak manusia yang mengejar kabahagiaan dengan mengumpulkan materi
sebanyak-banyaknya tetapi setelah materi terkumpul dan semua fasilitas hidup
terpenuhi, kebahagiaan dan ketentraman hidup yang hakiki belum juga dapat dirasakan. Hal ini karena yang dapat
merasakan bahagía dan tentram adalah roh, sedangkan ruh itu berasal dari Allah,
maka ia dapat merasa bahagia dan tenteram yang sesungguhnya kalau melaksanakan syariat
Islam dan mendekatkan diri padaNya.
[1] Imam al-Qusyairy al-Naisabury, Risalah
al-Qusyairiyah ( Surabaya: Rízala Gusti, 1999) hal,3
[2]
Amin Syukur, The Social Consequence of Tasawuf,
Cara-cara mendekatkan
diri kepada Allah ini, dilaksanakan dalam proses pendidikan thariqah yang
dibimbing oleh seorang guru mursyid ( istilah guru dalampendidikan thariqah).
- Perumusan Masalah
Perumusan
masalah dalam penulisan ini adalah sebagai
berikut:
1.
Apa pengertian pendidikan
thariqat, apa saja ajarannya?
2.
Bagaimana ciri kehidupan masyarakat modern ?
3.
Apa saja problematika
masyarakat modern terhadap pendidikan thariqat ?
4.
Pentingnya pendidikan
thariqat bagi masyarakat modern?
- Pengertian Pendidikan Thariqat.
Thariqat adalah jalan, petunjuk dalam melakukan
suatu ibadah sesuai dengan ajaran yang ditentukan dan dicontohkan oleh Nabi dan
dikerjakan oleh Sahabat dan Tabi’in, turun temurun sampai pada guru-guru
(mursyid ), sambung-sinambung dan rantai berantai.[1] Menurut Qutbaddin , Tarekat adalah
“ jalan “ yang ditempuh para sufi, dan digambarkan sebagai jalan yang
berpangkal dari syariat, sebab jalan utama disebut syar’ sedangkan anak
jalan disebut tariq, menurut anggapan para sufi, pendidikan mistik (
tasawuf ) merupakan cabang dari jalan utama yang terdiri atas hukum Ilahi,
tempat berpijak bagi setiap muslim. [2]
Dari pengertian tersebut menunjukkan bahwa tarekat merupakan jalan atau
cara beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah yang berpangkal dari
syariat. Tujuannya adalah menyucikan jiwa (tazkiyah al-nasf ), membersihkan
hati ( tashfiyah al-qulub ) dan mendekatkan diri
Sedangkan pengertian
pendidikan adalah mengasuh jasmani dan rohani, supaya sampai pada keindahan dan
kesempurnaan yang mungkin dicapai.[3]),
Jadi pendidikan thariqat
adalah bimbingan cara Ibadah oleh mursyid/ guru terhadap perkembangan mental
spiritual murid agar dapat beribadah sesuai dengan syariat untuk mendekatkan
diri kepada Allah sedekat-dekatnya agar terbentuk kepribadian sempurna yang
mungkin dicapai.
Perbedaan pendidikan
thariqat dengan pendidikan pada umumnya adalah bahwa guru dalam pendidikan
thariqat adalah mursyid yaitu orang khusus yang sudah ma’rifat yaitu tingkat
tertinggi, dimana orang telah mencapai kesucian hidup dalam alam rohani,
memiliki pandangan tembus ( kasyaf ) dan mengetahui hakikat dan kebesaran Allah.[4]dan
sudah mendapat ijazah dari gurunya sebagaimana tersebut dalam silsilahnya.[5]
Tujuannya adalah mensucikan jiwa (tazkiyah al-nasf ), membersihkan hati
(tashfiyah al-qulub), dan mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ala
Allah).[6] Muridnya adalah orang-orang
yang ingin mensucikan diri untuk mencapai kebahagiaan akhirat, meskipun tetap
melaksanakan kegiatan duniawi sebagai sarana mencapai akhirat.
Thariqat yang diamalkan orang-orang sufi, dengan
tujuan kesucian ini, melalui empat tingkat, yaitu pertama syari’at,
mengetahui dan mengamalkan ketentuan-ketentuan syari’at. Kedua thariqat,
mengerjakan amalan hati, dengan aqidah yang teguh. Ketiga hakikat,
cahaya musyahadah yang bersinar cemerlang dalam hati, sehingga dapat
[1] A.Wahib Mu’thi, Tarekat: Sejarah
timbulnya,macam-macam dan ajaran-ajarannya( Jakarta: Yayasan wakaf
Paramadina, tt.) hal 141
[2]
Abu Bakar Atjeh, hal 60
[3] Aisah Dahlan,Membina Rumah
Tangga Bahagia (Jakarta: Yamunu, 1969), hal. 127
[4] Mahmud Abu al-Faidl
al-Manufi,Al-Tasawuf al-Islamal-Khalish(Kairo, Dar al-Nahdlah, tt.) 11
[5]
Abu Bakar Atjeh, Pengantar Ilmu Tarekat.
[6]
A.Wahid Mu’thi, Tarekat: Sejarah timbulnya, macam-macam dan ajaran-ajarannya
( Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1998). Hal. 141
mengetahui hakikat Allah
dan rahasia semesta. Dan keempat adalah ma’rifat.[1]
Thariqat yang
pengertiannya adalah jalan atau cara Ibadah, dalam perkembangan selanjutnya
juga dipakai sebagai nama dari organisasi perkumpulan thariqat tertentu untuk
mempermudah mengorganisir jama’ah pengikutnya, tanpa menghilangkan pengertian
aslinya. Hal ini tidak menimbulkan masalah bagi masyarakat, bahkan lebih
berdampak positif, karena memudahkan masyarakat yang memperhatikan dan bahkan
berminat mengikutinya untuk dapat menilai atau memilih thariqat mana yang sesuai
dengan kecenderungannya.
D. Materi Pendidikan Thariqat
Materi
pendidikan thariqat menyangkut ilmu tauhid, fiqih dan tasawuf yang mengacu pada
pensucian jira, pembersihan hati dan pendekatan diri kepada Allah. Diajarkan
kepada murid berupa ajaran-ajaran thariqat.
Adapaun
ajaran-ajaran thariqat tersebut meliputi :
1. Istighfar, adalah meminta ampun kepada Allah dari segala dosa
dan kesalahan yang telah diperbuat oleh seseorang dan berpaling dari perbuatan
itu.[2]
Sebagaimana firman Allah dalam Qirsn surat
Nuh ayat 10.
فقلت استغفروا ربكم انه كان غفارا
Maka aku
katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah
Maha Pengampun-,
[1] Ummu Salamah,Tradisi dan Akhlak
PengamalTarekat,( Garut: Yayasan al-Musaddadiyah, 2001), hal. 166
[1]
Mahmud Abu,Al-Tasawuf.
[2] Ali Ibnu Muhammad al-Jurjani, al-Ta’rifat
( Beirut; Dar al-kutub al- ilmiyah, 1988,), hal.18
1. Shalawat, membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. untuk
memohonkan rahmat kepada Nabi dan diharapkan Allah akan memberikan rahmat dan
karunia kepada pembacanya. Nabi sebagai puntu bagi manusia untuk bisa sampai ( wushul
) kepada Allah. Allah memerintah kepada manusia supaya membaca shalawat,
sebagaimana firmanNya dalam Q.S. A.-Ahzap ayat 56 :
ان الله وملئكته يصلون علي النبي يايها الذين امنوا صلوا عليه و سلموا تسليما
Sesungguhnya Allah dan MalaikatNya membaca shalawat atas Nabi, wahai
orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian atasnya dan ucapkan salam
penghormatan kepadanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar